Bismillah
Di tulisan kali ini, entah kenapa aku ingin banget menuliskan tentang semua ini.
Semoga setiap hal yg ditulis disini dapat diambil pembelajaran maupun hikmah bagi pembaca :))
Semua berawal dari tanggal 22 April (atau 29 April, agak lupa) 2017. Lebih tepatnya, usroh pertamaku sebagai anak asrama putri Salman 2017/2018.
Saat itu, manajer BMK (yang sebelumnya adalah asmen keasramaan), kak Upi menceritakan suatu cerita yg bagiku itu sangat bermakna bagi kehidupanku hingga saat ini. Bahkan cerita itu, selalu ku ingat setiap kalimatnya dan hingga membuatku bisa berubah.
Beliau bercerita begini,
"Banyak yang mengatakan hidup itu pilihan. Namun apakah semua keadaan yang ada itu pilihan? Tidak. Iya, tentu tidak semua yang ada itu pilihan. Ada sesuatu yang dikiranya pilihan namun sebenarnya bukanlah pilihan, namun konsekuensi. Misal suatu unit KPA akan menyelenggarakan suatu pergelaran. Pasti sebelum nya akan ditanyai siapa aja yang mau ikut tampil dalam pergelaran atau tidak. Ketika waktu telah berjalan, pasti akan banyak latihan dilakukan (meskipun ketika banyak ujian ujian). Dan saat itu pula pasti akan ada yang mengatakan 'latihan itu pilihan, pilih latihan atau belajar'. namun jika dilihat dari atas, latihan itu bukanlah lagi menjadi pilihan. pilihan itu ada ketika memilih untuk ikut tampil atau tidak, sedangkan latihan itu adalah konsekuensi akan pilihan yang dipilih. Ketika diawal telah memilih untuk ikut tampil, ya lakukanlah pilihan itu, termasuk mengikuti konsekuensinya. Dan saat itu pula latihan bukan jadi menjadi pilihan. So, tidak semua yang ada itu adalah pilihan, bisa jadi yang dikiranya pilihan, justru itu adalah konsekuensi atas pilihan yang telah dipilih. Pintar pintar lah membagi mana yang pilihan dan mana yang konsekuensi."
Dari cerita ini, mindsetku rasanya berubah total mengenai kehidupan asrama ku selama setahun ke depan.
Pada awalnya, memang nasehat itu masih belum mengena bagiku. Namun, ditengah tengah keberjalanan asrama, ku mulai menemukan kebenaran ajan nasihat itu.
Misal nya saja contoh kecilnya, kita dihadapkan dengan banyak aturan asrama mulai dari piket harian, mingguan, sholat tahajud jamaah tiap malam, pembina fiqh, bahasa Arab, bahasa Inggris, Tahsin, kumpul pagi, pembinaan tausiyah, usroh sabtu subuh, kunjungan karyawan, kunjungan pengurus, asrama berbagi, belum ditambah piket ketakmiran bahkan hingga jam malam pun kami memiliki aturan yang udah ada.
Dan akuu, Nuril Fikhi Kamila, yang notabene tidak pernah nyantri sama sekali sebelumnya, awalnya merasa seneng karna banyak kegiatan diatas itu adalah salah satu cara menambah keimananku. Namun, dengan berjalannya waktu yang membuat amanahku semakin bertambah di unit maupun akademik, akhirnya suatu ketika diriku pun mulai mengalami kekeosan. Dan sejak kekeosan itu melanda diriku, aku baru menyadari akan kebenaran dari nasihat yg dikatakan kak Upi ketika pertama kali keterima menjadi anak asrama putri Salman. Dan berkat nasihat beliau lah, kemudian diriku mencoba dapat melaksanakan apa yg dinasihatkan kak Upi.
Masih belum menemukan benang merahnya kah?
Yaaa, jadiii di asrama itu tentu akan banyaaaak banget kegiatan kegiatan yg bagi orang lain itu adalah pilihan. Misalnya saja mengenai piket harian, ada yg berpikiran piket harian itu adalah pilihan,pilihannya melaksanakan piket yg artinya dia aman atau tidak melaksanakan piket yg artinya dia akan kena tegur atau yg lainnya. Namun,sebenernya piket harian itu bukan lagi sebuah pilihan. Piket harian ini telah berubah menjadi konsekuensi, konsekuensi apa? Konsekuensi karna telah memilih untuk mendaftar menjadi anak asrama putri Salman. Kalau tidak mau piket harian, yaa kenapa ga dari awal aja ga daftar asrama salman.
Piket harian ini hanya hal kecil saja,banyak hal hal yang lainnya.
Diriku sendiri, tentu awalnya sangat susah. Terlebih untuk bagian sholat tahajud jamaah bersama sama.
Karna sebelum asrama aku adalah anak kosan,tentu sholat tahajud gapernah berjamaah, tahajud selalu munfarid. Nah, ketika di asrama, awalnya aku menentang fasilku, bahkan aku melakukan sering melakukan sholat tahajud sendiri. Dalam pikirku "toh, aku tahajudnya juga gaakan pernah bolong meski ga jamaah, meski munfarid aku bisa tahajud sendiri". Nah, ini nih, setan banget yang berbisik itu dalam diriku. Setan yang belum bisa ku kendalikan (ini terjadi sekitar bulan bulan awal masuk asrama).
Namun, fasilku suatu ketika menjelaskan tujuan maksud shalat tahajud berjamaah untuk apa.
Beliau mengatakan begini "Dek, ya kakak tau kamu bisa saja melakukan tahajud sendirian, munfarid. Tapi dek,tidak semua anak anak astri itu bisa bangun cepat, bisa bangun hanya dengan sekali alarm, dan bisa bangun untuk shalat tahajud. Nah, shalat tahajud berjamaah ini adalah salah satu ikhtiar kakak agar anak anak asrama semuanya bisa sholat tahajud, bukan satu dua orang, tapi semuanya. Biar kita bisa baik bersama sama". (Ini diksi kata katanya ga gini banget sih, tapi intinya aku nangkapnya gini dari beliau)
Huaaaa, rasanya sejak saat itu juga hatiku menangis, sedih, terpukul dan rasanya selama itu pula setan telah mengelabui isi hatiku. Dan sejak saat itu pula, ku bisa menjalankan nya dengan lebih ikhlas dan tanpa paksaan.
Dari sini, rasanha pesan nasihat kak Upi diawal tadi pun berlaku. Ketika aku memutuskan untuk masuk asrama salman, harusnya aku telah siap dengan segala hal yg ada di asrama, karna semua hal yg di asrama itu telah menjadi konsekuensi atas pilihanku diawal.
Wah panjang ya..
Tak terasa, saat ini nasihat itu telah setahun yg lalu lamanya.
Tak terasa, aku bukan lagi menjadi anak asrama yg ingin banget di manja sama kakak kakakku.
Dan tak terasa, tanpa kepikiran ataupun terbersit ataupun keinginan sekecil apapun untuk melanjutkan di asrama lagi di tahun berikutnya.
Yaaa, aku ga pernah terbersit sedikitpun menjadi seorang fasil. Menjadi kakak, menjadi orang yg harusnya bisa mengingatkan seperti kakak fasilku diatas,yang bisa memberi pencerahan ketika ada anak asrama butuh penerangan dan menjadi Ibu ketika di Bandung sini...
Rasanya diri ini masih belum pantas, belum pantas untuk mengemban amanah ini, belum pantas untuk menjadi salah satu pioner dalam kegiatan berasrama dan belum pantas untuk menjadi garda terdepan dari garda terdepannya Salman.
Namun, ketika ku selalu merasa terpuruk atas semua keterbatasanku, ku selalu ingat bahwa rencana Allah itu yang terbaik, bahwa Allah itu adalah sesuai prasangka hamba-Nya. Jika ku terus terusan berpikir bahwa semua ini musibah, Allah pun akan sesuai prasangka hamba-Nya. Namun jika ku berprasangka ini adalah rahmat, maka insya Allah akan benar benar menjadi rahmat yang datang dari Allah.
Mungkin dengan amanah ini menjadi kan ku lebih dewasa dari yang sebelumnya dan lebih meningkat kapasitas serta memenejemen waktu, pikiran dan juga hati.
Asramaaa, ku mulai jatuh cinta, entah itu kapan tumbuhnya, namun yang ku tau, rasa ini terpaut karna cinta dari-Nya.
Tulisan berikutnya adalah tentang karisma, coming soon :))
Nuril Fikhi Kamila
23 Ramadhan 1439. 22.46
Komentar
Posting Komentar