"Dia yang manis itu adalah ukhuwah"
Terdapat sepenggal cerita dijaman Rasulullah.
Cerita tentang sahabat yang kedatangan seorang tamu tetapi ia dan keluarganya hanya mempunyai persediaan makanan yang untuk anak-anaknya saja tidak cukup (ada tapi sedikit sekali). Kemudian sahabat itu meminta istrinya untuk mengajak bermain anak-anaknya, jika anak-anaknya ingin makan malam ajaklah mereka untuk tidur. Dan pada saat tamu tersebut masuk ke ruang makan, dipadamkannya lampu rumahnya. Dan mereka menunjukkan seolah-olah sedang makan bersamanya (yang makan hanya tamunya saja). Dan otomatis, malam itupun mereka lalui dengan menahan lapar. Ketika tamunya sudah selesai berkunjung, keduanya menuju Nabi SAW, kemudian Rasulullah memberitakan kabar gembira berupa pujian dari Allah dengan turunnya ayat 9 surat Al-Hasyr. (Dikutip dari suatu sepenggal cerita)
Cerita diatas menggambarkan betapa manisnya ukhuwah. Manis yang dirasa oleh hati yang terdalam. Manis bukan hanya terasa dibibir saja melainkan menelusuk hingga kedalam sel sel hati sekaligus relung jiwa.
Ya, begitulah ukhuwah.
Ukhuwah begitu manis. Meski tak semanis rasa teh manis salman. Meski tak semanis warna warni baju yang ada di foto ini. Tapi ukhuwah memiliki kadar porsi sendiri yang tidak dapat dijelaskan oleh masing masing individu. Dan tentunya, masing masing individu pun tak dapat menjelaskan apa yang dirasakan akan rasa manis ukhuwah itu :) Jadi, sebenernya ini foto menghadap kamera yang mana?
-Penyambutan Mahasiswa Baru Muslim FMIPA ITB 2015-
Nuril Fikhi Kamila, ditulis diatas kasur asrama putri salman 402.
Komentar
Posting Komentar