Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Agustus, 2017

Tentang wanita yang memimpikan sesuatu

"Wanita berpendidikan tinggi bukan untuk menyaingi laki-laki, tapi untuk membangun generasi", begitu secuplik kutipan yang ku dapatkan dari suatu bacaan.  Merasa sangat setuju sekali dengan kata-kata tersebut. Karna suatu generasi akan menjadi seperti apa nantinya tentu bergantung salah satunya dengan seperti apa pembelajaran yang didapatkan dari generasi tersebut. Dan pembelajaran pertama sejak suatu generasi dilahirkan yaitu adalah orang tua. Orang tua yang akan mengajarkan banyak hal tentang dunia kepada seorang insan yang terlahir di dunia ini. Hmm, tentu orang tua yang dimaksud disini akan lebih cenderung adalah seorang wanita alias ibu (meskipun pastinya ayah juga memiliki peran yang penting juga sih). Seorang ibu akan menjadi teladan bagi anak-anaknya, menjadi madrasah pertama yang akan mengajarkan banyak hal tentang dunia dan kehidupan ada didalamnya.  Menulis seperti ini jadi keingat ibu. Ibu yang menjadi teladan saya, seorang ibu yang sabar dan pasti banyak pembelaj...

Putuskan...

[Ini lebih tepat diupload beberapa hari lalu, tapi tak apa, pesan yang ingin disampaikan berlaku untuk kapanpun] Seringkali ku berharap, berkhayal, orang-orang yang pernah aku kasi pengertian, aku beri penjelasan sesuai yang ada difikiran, orang-orang yang diam-diam ku doakan, yang ku ingin pikirannya berubah, orang-orang yang ku pertahankan sekuat tenaga, orang-orang yang lain lain, suatu hari ketika malam tiba mereka bermimpi dan berubah pikiran, dan kemudian esok harinya ketika bangun, pikirannya telah sesuai yang ada dalam doa dan harapanku. Hmm, namun, harapan dan khayalanku salah. Sering kali salah. Seringkali Allah memperingatkan dengan berbagai cara, seringkali harapan tak sesuai harapan, itu karna aku berharap pada sesuatu yang salah. Berharaplah hanya kepada Allah :) Hanya Allah-lah tempat segala harapan. Allah lah yang mengerti kita dan Allah lah yang lebih mengerti akan perasaan kita :)

Dia manis. Iya manis. Dia itu adalah ...

"Dia yang manis itu adalah ukhuwah" Terdapat sepenggal cerita dijaman Rasulullah. Cerita tentang sahabat yang kedatangan seorang tamu tetapi ia dan keluarganya hanya mempunyai persediaan makanan yang untuk anak-anaknya saja tidak cukup (ada tapi sedikit sekali). Kemudian sahabat itu meminta istrinya untuk mengajak bermain anak-anaknya, jika anak-anaknya ingin makan malam ajaklah mereka untuk tidur. Dan pada saat tamu tersebut masuk ke ruang makan, dipadamkannya lampu rumahnya. Dan mereka menunjukkan seolah-olah sedang makan bersamanya (yang makan hanya tamunya saja). Dan otomatis, malam itupun mereka lalui dengan menahan lapar. Ketika tamunya sudah selesai berkunjung, keduanya menuju Nabi SAW, kemudian Rasulullah memberitakan kabar gembira berupa pujian dari Allah dengan turunnya ayat 9 surat Al-Hasyr. (Dikutip dari suatu sepenggal cerita) Cerita diatas menggambarkan betapa manisnya ukhuwah. Manis yang dirasa oleh hati yang terdalam. Manis bukan hanya terasa dibibir saja m...